judul blog

Gudang Data Notes dan SS Facebookers Syiah Berikut Beberapa Tulisan Penting Seputar Syiah

Sabtu, 01 Januari 2011

Apakah Aisyah Istri yang Paling Dicintai? ..

oleh Jjihad 'Ali pada 28 Agustus 2010 jam 21:51

Sejumlah orang mengklaim bahwa Aisyah adalah istri Nabi yang paling dicintai dan penuh kasih, dan bahwa Nabi Muhammad SAW tidak dapat dipisahkan darinya. Mereka bahkan melaporkan bahwa beberapa orang istri beliau rela memberikan giliran mereka kepada Aisyah begitu mereka tahu bahwa Nabi Muhammad SAW mencintai dia dan tidak dapat menahan untuk bertemu dengannya. Klaim semacam ini jelas bertentangan dengan hadis-­hadis sahih sebelumnya yang menyebutkan bahwa Khadijah adalah istri Nabi yang paling baik, dan hadis-hadis yang menyebutkan sifat Aisyah yang amat pencemburu. Jika saja Aisyah adalah istri yang paling dicintai, dapatkah kita memberikan penjelasan atas kecemburuan Aisyah yang berlebihan itu?



Berikut ini penjelasan yang diberikan oleh Bukhari dan ulama-ulama hadis lainnya tentang sikap Aisyah terhadap suaminya SAW. Dalam Shahih Bukhari hadis 7.570, diriwayatkan dari Qasim bin Muhammad,



‘Aisyah (sambil mengeluh sakit kepala) berkata, ‘Aduh, kepalaku!’ Nabi berkata, ‘Aku berharap bahwa (kematianmu) terjadi pada saat aku masih hidup, karena dengan demikian aku dapat memintakan ampunan Allah bagimu dan berdoa kepada Allah untukmu.’ Aisyah berkata, ‘Cerita yang sama! Demi Allah, aku pikir bahwa engkau menginginkanku mati, dan jika ini terjadi, engkau akan menghabiskan sisa harimu dengan tidur bersama salah seorang istrimu!”‘



Apakah narasi di atas menunjukkan bahwa Rasulullah SAW amat mencintai Aisyah sehingga beliau tidak dapat hidup tanpa dia? Aisyah sendiri, dengan sepenuh kecemburuannya, mengakui bahwa Nabi Muhammad SAW berharap untuk bersama dengan istri beliau yang lain dari pada menghabiskan waktu beliau bersama dirinya. Seraya meramalkan perjalanan hidup Aisyah di kemudian hari, Nabi Muhammad SAW bahkan berharap agar dia meninggal pada masa hidup beliau, sehingga beliau dapat memintakan ampunan Allah SWT baginya.



Lagi pula, bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW mencintai seseorang yang berbohong, memfitnah, mengumpat dan meragukan Allah dan Rasul-Nya dengan menuduh mereka tidak adil? (lihat hadis yang ada di bagian sebelumnya, juga pada hadis-hadis di bawah ini). Bagaimana mungkin Rasulullah SAW mencintai seseorang yang memata-matai beliau, ke luar tanpa izin beliau untuk mencari tahu di mana beliau pergi? Bagaimana mungkin Rasulullah SAW mencintai seseorang yang menghina salah seorang istri beliau (Khadijah) di depan beliau, bahkan ketika sudah meninggal? Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW mencintai seseorang yang membenci putra beliau Ibrahim, dan menuduh istri beliau, Mariah, berbohong?



Bagaimana mungkin Nabi Muhammad SAW mencintai seseorang yang membenci putri beliau Fathimah Zahra, dan yang membenci saudara dan kemenakannya, Ali bin Abi Thalib, sampai-sampai dia tidak mau menyebutkan nama Ali dan berprasangka baik pada Ali?[1]



Perbuatan-perbuatan semacam itu dibenci oleh Allah SWT dan Nabi­Nya, dan mereka tidak akan mencintai orang yang melakukan perbuatan tersebut, sebab kebenaran adalah bersama Allah dan Rasul-Nya adalah retleksi dari kebenaran, karena itu tidak mungkin bagi beliau untuk mencintai seseorang yang menentang kebenaran. Dalam kenyataannya, tidak saja Rasulullah SAW tidak mencintai dia, bahkan beliau juga memperingatkan umat akan fitnah yang dia akan timbulkan.



Laporan-laporan lemah yang mengklaim adanya cinta yang berlebihan dari Rasulullah SAW kepada Aisyah senyatanya adalah dibuat oleh musuh­- musuh Ali. Mereka memberikan kehormatan yang paling tinggi kepada Aisyah manakala dia melayani mereka. Dia meriwayatkan bagi mereka apa yang mereka sukai, dan dia berperang dengan musuh mereka, Ali bin Abi Thalib.



Salah satu alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang mengklaim adanya kecintaan yang berlebihan Nabi Muhammad SAW kepada Aisyah adalah karena Aisyah cantik dan muda, dan satu-satunya perawan yang beliau nikahi, sebab sebelumnya tidak pernah dinikahi oleh orang lain. Yang lainnya berkata, “Sebab dia adalah putri Abu Bakar Sidiq, sahabat Nabi Muhammad SAW yang menemani beliau di gua (tsur).” Sementara yang lainnya menyatakan, “Sebab dia menghafal separuh agama dari Rasulullah SAW dan dia adalah seorang ahli hukum yang terpelajar.”



Untuk klaim yang pertama, jika saja Nabi Muhammad SAW menikahi dia karena dia cantik dan satu-satunya perawan yang beliau nikahi, lalu apa yang menghalangi beliau dari menikahi perawan-perawan cantik yang kecantikan dan daya tariknya jauh melebihi dia, dan yang memainkan model bagi suku­-suku Arab saat ini? Di sisi lain, sejarahwan Sunni sendiri menyebutkan adanya kecemburuan Aisyah kepada Zainab binti Jahsy, Shafiyah binti Huyay dan Mariah Qibt, karena mereka lebih cantik daripada dia.



Nabi Muhammad SAW menikahi Malikah binti Ka’ab yang dikenal karena kecantikannya yang menonjol. Aisyah pergi mengunjungi dia dan berkata, “Tidaklah kamu malu menikahi pembunuh ayahmu sendiri?” Dia (Malikah) lalu mencari perlindungan dari Rasulullah, dan atas kejadian itu lalu beliau menceraikannya. Orang-orangnya lalu datang kepada beliau dan berkata, “Wahai Rasulullah, dia masih muda dan kurang memiliki pengetahuan. Dia telah ditipu, karena itu ambillah dia kembali!” Rasulullah SAW menolak permintaan mereka, padahal pembunuh ayah Malikah adalah Khalid bin Khandama[2]



Narasi ini dengan jelas bahwa Rasulullah SAW tidaklah menikahi seseorang karena kecantikannya, sebab kalau tidak beliau sudah tentu tidak akan menceraikan Malikah binti Ka’ab yang masih muda dan dikenal dengan kecantikannya yang terkemuka.



Narasi ini, juga narasi-narasi lain di bawah, menunjukkan kepada kita metode yang digunakan oleh Aisyah dalam menipu perempuan­-perempuan mukminat yang tidak berdosa, dan mencegah mereka dari menikahi Rasulullah SAW. Di sini Aisyah menghasut lewat perasaan Malikah terhadap kematian ayahnya, dan mengatakan bahwa pembunuh ayahnya adalah Rasulullah SAW, dengan kata-kata, “Tidaklah kamu malu menikahi pembunuh ayahmu sendiri?” Apa yang dapat dilakukan oleh gadis lugu tersebut kecuali meminta perlindungan dari Rasulullah SAW? Padahal, Rasulullah SAW bukan pembunuhnya.



Dilaporkan juga bahwa ketika Asma binti Nu’man dibimbing untuk berdampingan dengan mempelai laki-lakinya (yakni Nabi Muhammad SAW), Aisyah memberi tahu dia bahwa Nabi sangat amat senang dengan perempuan yang ketika mendekati beliau berkata, “Semoga Allah menyelamatkanku dari engkau!”[3]



Di sisi lain muncul pertanyaan, mengapa Nabi Muhammad SAW menceraikan keduanya, yang semata-mata hanyalah korban dari rencana dan tipuan Aisyah? Sebelum pembahasan lebih lanjut, kita harus menyadari bahwa Nabi Muhammad SAW adalah maksum, dan karena itu beliau tidak akan memaksa seseorang, ataupun melakukan sesuatu yang tidak benar. Oleh karena itu, dalam menceraikan kedua perempuan itu pastilah terdapat hikmah yang diketahui oleh Allah SWT dan Nabi-Nya. Sama halnya, meskipun kelakuan Aisyah sedemikian rupa, pasti terdapat Zikmah sehingga beliau tidak menceraikannya.



Sejauh tentang perempuan yang kedua, yaitu Asma binti Nu’man, sifat naifnya menjadi tampak ketika tipu daya Aisyah mencengkramnya, dan kalimat pertama yang dia sampaikan kepada Rasulullah SAW ketika beliau merentangkan tangan beliau kepadanya adalah “Aku berlindung kepada Allah dari Anda!” Meskipun dia cantik luar biasa, Nabi Muhammad SAW tidak membiarkannya tetap berada pada kecupetan pemikirannya.



Bersama-sama dengan para perawi lainnya, Ibnu Sa’d dalam kitab –at-Tabaqat-nya jilid VIII halaman 145 atas otoritas Ibnu Abbas berkata, Nabi Muhammad SAW menikahi Asma binti Nu’man, dan dia termasuk diantara perempuan yang paling cantik dan sempurna pada masanya.” Barangkali Nabi Muhammad SAW ingin mengajari kita tentang pentingnya pertimbangan intelektual daripada kecantikan fisik, sebab berepa banyak perempuan cantik telah dihantarkan oleh kebodohannya menuju kehancuran ?



Sejauh tentang perempuan yang pertama, yaitu Malikah binti Ka’ab, yang ditipu oleh Aisyah dengan mengatakan kepadanya bahwa suaminya (Nabi Muhammad SAW) adalah pembunuh ayahnya, Nabi Muhammad SAW tidak ingin gadis bodoh ini - yang masih muda dan kurang pengetahuan, sebagaimana yang dibenarkan oleh kaumnya - hidup dalam ketakutan dan teror yang dapat menyebabkan masalah-masalah besar lainnya, khususnya karena Aisyah tidak akan pernah membiarkannya hidup damai bersama Nabi Muhammad SAW. Tidak diragukan lagi, terdapat alasan lain yang diketahui oleh Nabi Muhammad SAW yang tidak kita ketahui.





1. Lihat Shahih Bukhari, edisi Arab Inggris, hadis ke 3.761 dan 5.727 dan 5.736.

2. at-Tabaqat, Ibnu Sa’d, jilid 8, hal. 148; Ibnu Katsir, jilid 5, hal. 299.

3. al-Mustadrak Hakim, jilid 4, hal 37, tentang Asma; al-Ishabah, Ibnu Hajar Asqalani, jilid 4, hal. 233; at-Tabaqat, Ya’qubi, jilid 2, ha1.69.





2 komentar:

  1. Bertaubatlah wahai da'i syi'ah la'natulloh. Penafsiran mu goblok segoblok-gobloknya, lihatlah bagaimana para ulama menafsirkan hadits2 tersebut, bukan ditafsirkan seenak udel mu

    BalasHapus
  2. Alhamdulillah sudah tobat mas..dengan mengikuti agama Allah dan RasulNya serta Ahlulbaitnya...

    BalasHapus

Allah