judul blog

Gudang Data Notes dan SS Facebookers Syiah Berikut Beberapa Tulisan Penting Seputar Syiah

Rabu, 12 September 2012

Sampang, Tajul Muluk, dan NU yang Membeku


Kamis, 16 Agustus 2012 | 12:09

Tajul Muluk, penganut mazhab Syiah di Sampang yang telah dikriminalisasi karena keyakinannya adalah contoh orang kecil yang tertindas. Dan saya tidak bisa mendamaikan kemarahan dan kesedihan saya yang mendalam atas nasibnya, tanpa menuliskannya. Bagi saya, Tajul Muluk adalah pantulan diri saya sendiri. Saya melihat diri saya pada dirinya dan nasibnya.

Simpati saya kepadanya datang dari rasa kemanusiaan yang wajar, sedemikian wajarnya sehingga saya merasa perlu untuk mengurai penindasan yang dialaminya dengan alasan-alasan yang wajar dan mudah, mengabaikan kerumitan teknis hukum dan dalil pasal-pasal.

Semata-mata agar orang tahu, tanpa perdebatan soal prosedur hukum dan pengadilan tiga per empat yang kerap begitu palsu, keadilan dan ketidakadilan bukanlah perkara yang rumit untuk dipahami bahkan bagi orang kebanyakan. Dan hakim atau pengadilan sering kali gagal melihat konteks-konteks sosial secara utuh sebagai bagian yang tidak bisa dipisahkan dari bangunan kesimpulan hukum.

Tajul Muluk awalnya adalah seorang santri, kemudian seorang ustad yang memimpin madrasah milik orangtuanya. Sebagaimana orangtuanya, dia menetap dan menghabiskan umurnya yang mendekati 40 tahun, sebagai warga kampung di Dusun Nangkernang, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang.

Selama itu, dia tak pernah terlibat kejahatan, perbuatan asusila, atau kebejatan moral yang meresahkan masyarakat. Bahkan sebaliknya, dia adalah seorang ustad yang pintar, peduli, dan secara tak terelakkan menjadi panutan di kampungnya.

Ditunjang dengan bahasa Arab yang cukup baik, bekal ilmu agama yang luas, dan kepribadian yang lembut terutama terhadap warga miskin di sekitarnya, keberadaan Tajul adalah ‘perbedaan mencolok’ bagi praktik keberagamaan yang semakin simbolis dan cenderung membeku di Sampang.

Dengan sadar saya menulis bahwa telah begitu lama tumbuh sejumlah kiai gadungan yang mengaku NU atau lebih tepatnya pedagang agama dengan simbol-simbol NU yang telah menjadikan agama dan tradisi NU yang mulia itu sebagai barang dagangan di Sampang.

Sebagian para pengaku kiai NU di Sampang itu mencekik umat bahkan yang miskin dengan tarif saat perayaan mauludan Kanjeng Nabi dan ritual-ritual tradisi NU lainnya yang sangat dihormati di Sampang.

Sehabis ritual-ritual itu, sudah umum diketahui begitu banyak warga di Sampang sering harus berutang karena tradisi menanggap kiai berceramah dari pintu ke pintu. Status dan kadar ke-NU-an perlahan-lahan dibangun di atas hubungan-hubungan selebritas agama yang menyusahkan daripada membebaskan.

Kiai-kiai NU ini tentu saja tak benar-benar layak disebut kiai kecuali karena simbol-simbol di tubuhnya. Mereka mempromosikan Islam NU yang materialistis dengan menjual tarif dan tak lagi mau berkunjung ceramah ke tempat orang-orang miskin yang jamak ada di sana. Anda tak perlu mengerahkan daya selidik yang serius untuk mengetahui realitas seperti itu.

Kiai atau tokoh agama itu kini juga lebih banyak menjual proposal agama dengan Pemda ketimbang memperjuangkan masalah sosial dan kepentingan umat yang cukup mengkhawatirkan di sana.

Jika saja pikiran orang di Sampang dibiarkan bebas tanpa membutakan diri dengan simbol dan dogma, keprihatinan-keprihatinan mendalam terhadap kebekuan beragama itu sebenarnya tidak asing di benak warga Sampang. Mereka merasakan belenggu-belenggu itu lebih banyak dari mengatakannya.

“Tetapi kok Kiai itu (Tajul) berbeda?”

“Kalau begitu, mending saya jadi Syiah saja atau Muhammadiyah. Tak perlu harus berutang!”

Perlahan-lahan, sepak terjang keberagamaan Tajul Muluk, anak seorang kiai terpandang di Sampang, yang ramah terhadap orang miskin dan lebih mempesona dalam berdakwah, secara serius mengusik kemapanan kiai-kiai pecinta materi yang ada di Sampang, khususnya di Kecamatan Omben. Tajul Muluk adalah anti-tesa, sebuah Islam protes kepada kebekuan beragama yang menguat di sana.

Perang pengaruh yang mulanya bersifat personal telah beralih secara cepat menjadi sentimen identitas mazhab bahwa kami NU sementara Tajul Muluk itu Syiah dan (karenanya) sesat.

Tentu saja sentimen primordial yang meruncing itu adalah dalih untuk membungkus alasan sesuangguhnya yang jauh lebih primordial dan memalukan: kecemburuan, ketakutan akan hilangnya pamor dan panggung dakwah para kiai. Hal-hal yang cepat atau lambat, dengan atau tanpa Tajul Muluk, sebenarnya pasti akan terjadi di Sampang.

Tajul Muluk kemudian diolah dalam desas-desus dan fitnah klise yang standar dan mengada-ada tentang Syiah sehingga kemudian Tajul tersihir sebagai musuh masyarakat. Para kiai yang kemapanannya terusik itu mendapatkan angin pembenaran lebih dahsyat lagi oleh kelompok wahabi/takfiri bernama al-Bayyinat, yang juga mendaku diri sebagai kader NU yang anehnya terang-terangan memiliki agenda organisasi dan tercermin dalam ceramah kebencian mereka yang sistematis untuk menyesatkan dan memerang Syiah, khususnya di Jawa Timur.

Persekutuan jahat itu pun makin menjadi-jadi dengan melibatkan politik daerah di Sampang yang dimainkan oleh Bupati Sampang Noer Tjahja. Bupati ini melihat peluang menjadikan kasus Tajul Muluk sebagai kasus populis yang bisa digunakannya mendulang simpati massa fanatik NU untuk memilihnya sebagai bupati untuk kali kedua. Semenjak itu, bupati ini secara aktif mengeraskan dan memobilisasi pidato kebencian terhadap Tajul Muluk dan paham Syiah.

Tajul Muluk akhirnya terusir dari rumah, kampung halamannya dan dari pengikut dan santrinya yang berjumlah lebih dari 350 orang. Tapi itu rupanya tidak cukup. Jauh di pengungsian, Tajul mendengar, rumah dirinya, madrasah, mushalla, koperasi, rumah ibunya, dll telah dibakar massa.

Kebakaran itu berbuntut pengungsian ratusan warga pengikut Syiah dan kemudian penderitaan yang tidak terputus sampai sekarang, misalnya: penjarahan harta benda, pemecatan buruh- buruh karena tak mau keluar dari ajaran Syiah, dan lain sebagainya.

Alih-alih aktor penyuruh dan pelaku pembakaran ditangkap, dan hukum ditegakkan, yang terjadi Tajul Muluk yang sebenarnya adalah korban justru dikriminalisasi dan dihukum karena dianggap melakukan penodaan agama. Tak ada rehabilitasi rumah korban, pergantian hak-hak warga yang dirampas atau bahkan sekadar permintaan maaf.

Warga Syiah dan Tajul Muluk telah dipersekusi hak-haknya secara perlahan-lahan yang menyakitkan. Dalam penderitaan dan kemiskinan, anak istri Tajul Muluk, dan pengikutnya, menjalani penindasan hidup di depan negara yang hanya bersedia menjadi penonton.

Tanpa basa-basi saya ingin mengatakan, NU yang toleran, yang katanya memiliki prinsip kemanusiaan dan keindonesiaan yang solid terbukti hanya ilusi di Sampang.

NU boleh bersilat lidah, bahwa itu adalah oknum, tapi tampaknya apa yang disebut oknum-oknum itu telah cukup menguasai kancah politik organisasi NU di Jawa Timur, dan mungkin di daerah lain dalam waktu cepat, begitu cepatnya sehingga tak bisa dibayangkan oleh tokoh-tokoh ideologis NU sendiri.

Pada saat itu, mungkin NU bahkan akan pula segera disesatkan dan dikafirkan oleh rayap takfiri yang menempel di rumahnya sendiri.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Allah