judul blog

Gudang Data Notes dan SS Facebookers Syiah Berikut Beberapa Tulisan Penting Seputar Syiah

Selasa, 18 September 2012

Kupas Tuntas Abdullah bin Saba 4

Komentar Doktor Ali al-Wardi dalam Kitab Wu’âdz as-Salâthin
DR. Ali al-Wardi –dosen Universitas Baghdad- dalam kitabnya Wu’âdh as Salâthîn mengawali komentarnya dengan menyebut sebuah peristiwa yang ia alami dengan seorang pendeta, ia mengatakan, “Pada suatu hari saya mendengar seorang pendeta sedang mengolok-olok Islam, ia berkata, “Perhatikan agama ini, di kala ia berada di puncak kejayaan dan kemenangannya, ia terjatuh dalam perangkap seorang asing sejarah tidak mengenal banyak hal tentangnya. Pada saat sahabat-sahabat Muhammad menguasai masyarakat Islam dan menyebarkan ajaran Nabi mereka, kita melihat ada seorang Yahudi masuk ke tengah-tengah masyarakat tersebut dan merobek-robeknya tanpa ada yang mengangkat tangannya untuk mengusir atau menyiksanya.”[1]
Kemudian setelah ia memaparkan pandangan mereka yang mendukung keberadaan pribadi Abdullah bin Saba’ dan menolaknya, ia mengemukakan pertanyaan ini: Di sini kita berdiri kebingungan di antara dua pandangan yang bertolak belakang; Apakah Ibnu Saba’ memang benar-benar ada atau ia sekedar anggapan? Pertanyaan ini penting sekali bagi yang ingin mengkaji sejarah masyarakat Islam dan mengambil pelajaran darinya.
Kita dapat mengemas pertanyaan itu dengan bentuk lain: “Apakah masyarakat Islam dewasa itu butuh kepada seoarang yang membangkitkan mereka atau mengobarkan fitnah?
Hanya saja para sejarawan yang menukil kisah Ibnu Saaba’ menggambarkan bahwa masyarakat Islam pada saat itu tenang-tenang saja, puas dan tentram, tidak ada sesuatau yang mengagetkan atau mengelisahkan mereka. Saya membayangkan bahwa mereka (para sejarawan) itu dari tipe para penasehat penguasa yang dalam cara berfikir mereka mengikuti logika klasik Asistoteles. Mereka merasa terheran-heren apabila menyaksikan adanya gerakan\gejolak dalam sebuah masyarakat dan bertanya-tanya; seakan adanya gejolak dalam pandangan mereka adalah sebuah penyimpangan dari watak masyarakat dan hal asing yang datang kepadanya.
Logika sosial modern yakin bahwa masyrakat itu memiliki watak gerak/dinamika yang asli. Ia selalu bergerak atau yang disebut dalam istilah dengan ‘proses’.
Logika modern tidak akan terheran-heran apabila menyaksikan sebuah masyarakat bergerak, ia justru akan terheran-heran dan bertanya-tanya apabila menyaksiknnya diam . ‘Diam’ dalam pandangan logika modern adalah penyimpangan adapun ‘gerak’ adalah dasar yang tegak di atasnya keberadaan sosial dalam banyak kondisi.
Sesungguhnya masyrakat Islam pada saat kemunculan Abu Dzarr megalami kondisi krisis besar; perbedaan anatara si kaya dan si miskin sangat mencolok sehingga jiwa muak merasakannya … Sesungguhnya pemberontakan adalah sebuah kepastian. Kita tidak butuh untuk mencari-cari sebab kemunculannya, jusrtu kita perlu mencari tahu sebab apabila ketika itu tidak terjadi pergolakan atau kekacauan.”
Kemudian ia menambahkan, “Terbayangkan oleh saya bahwa Ibnu Saba’ adalah sebuah anggapan\ dugaan belaka seperti ditegaskan oleh Thaha Husain.”
Dan tampaknya bahwa pribadi yang unik ini diciptakan sedemikian rupa oleh orang-orang kaya yang mana pergolakan dialamatkan kepada mereka. Dan ini adalah gaya kalangan eristokrat\ kelompok mapan dalam setiap fase sejarah terhadap mereka yang memberontak.
Setiap pergolakan sosial oleh walan-lawan mereka selalu dituduh ada pengaruh bahaya laten di baliknya, hal ini telah disebutkan oleh Prof. Smill –seorang pemikir yang tekenal itu-.
Dan yang perlu disebut dalam hal ini ialah (Nabi Muhammad) sendiri telah dituduh oleh kaum Quraisy pada awal masa dakwah bahwa beliau mengadopsi ajarannya dari seorang pemuda Nasrani bernama Jabr,[2] dan oleh sebagaian dari mereka dituduh mengadopsi dari pendeta Buhaira dan Salman al Farisi dan lain-lain … .”[3]
Sesungguhnya setiap prinsip baru selalu dituding oleh kaum elit sebagai pengaruh asing –dan ini terjadi sebagaimana ditegaskan Prof. Smill – diberbagai fase sejarah.”[4]
Dan setelah bebarapa halaman, beliau mengatakn, “Para sejarawan mengembalikan sebab terbesar terjadinya kekecauan tersebut kepada Abdullah bin Saba’, seorang Yahudi pendatang yang memeluk Islam untuk berbuat makar …
Tampaknya para komlomrat yang ada di masa Utsman terkejut ketika menyaksikan adanya kebencian yang merata di tengah-tengah masyarakat terhadap kekayaan mereka yang berlebihan, maka mereka menuduhkan bahwa kebencian itu disulut oleh seoarang Yahudi pendatang yang ingin merong-rong Islam dan mengacau kaum Muslim. Dengan itu seakan mereka ingin menutupi sebab yang sebenarnya perlawanan kaum lemah terhdap mereka.
Sesungguhnya kerja besar yang dinisbatkan kepada Abdullah bin Saba’ tidak mungkin dapat dilakukan kecuali oleh seorang jenius atau penyihir atau tukang hepnotis kelas satu. Ia mesti mamiliki mata magnitis yang mampu memecah batu besar atau memiliki kekuatan jiwa yang mampu menjadikan manusia di hadapannya seakan sekawanan domba, terpengaruh dengan ucapan-ucapannya tanpa disadari!!
Dan andai orang seperti ini muncul di masa Utsman pasti berita tentangnya akan sampai kepada kita. Akan tetapi anehnya, kita tidak mendapatkan sebutan tentangnya dalam sumber-sumber terpenting yang menceritakan perkara perlawanan terhadap Utsman.
Saya tidak pernah menyaksikan dalam sejarah sebuah kisak fikitif yang laris dan bertahan dalam kurun waktu yang lama seperti kisah murahan ini.
Oleh kerenanya, kita mendapatkan Ibnu Saba’ akan bertanggung jawab atas dosa semua alam. Dan apabila Ibnu Saba’ benar-benar ada niscaya akan banyak yang meratapinya dan memprotes penuduhan tersebut(!).
Doktor al-Wardi pada pasal lima menyimpulkan sebagai berikut, “Sesungguhnya Abdullah bin Saba’ akan selalu ada di setiap zaman dan di setiap tempat, setiap gerakan baru ada Abdullah ibn Saba’ bersembunyi di belakangnya, apabila ia berhasil, nama Abdullah bin Saba’ akan tersembunyi dan gerakanya menjadi luhur, tapi jika gerakannya gagal maka bencana akan tertuang ke atas kepala Abdullah ibn Saba’ dan tamparan akan datang dari semua penjuru.
Ibnu Saba’ tidak akan pernah tenang pada setiap keadaan, ia senantiasa bergerak memanfaatkan kesempatan dalam semua jalan. Dan selama kezaliman ada maka setiap orang berpotensi menjadi Saba’I (penyandang faham Ibnu Saba’) –semoga Allah menyelamatkan kita –.”[5]
Apakan Ammâr bin Yasir adalah Ibnu Sawda’?
Diriwayatkan dari Nabi saw. bahwa beliau menyebut Ammar bin Yasir –seorang sahabat agung- bahwa ia akan dibunuh oleh kelompok yang baghiyah, dan ia benar-benar terbunuh dalam peperangan Shiffin dalam pihak Imam Ali as., ia dibunuh oleh pasukan Mu’awiyah.
Dan yang direkam oleh sejarah bahwa Ammar berpidato di Shiffin dan berkata, “Bangkitlah –wahai hamba-hamba Allah – kepada kaum yang mengaku menuntut balas atas kematian seoarang yang zalim yang bertahkim atas hamba-hamba Allah kepada selain kitab Allah (Utsman maksudnya)…. Maka berkata orang-orang yang tidak menghiraukan apabila dunia mereka selamat walau agama harus hancur, ‘Mengapakah kalian membunuhnya?’ Kami mengatakan, ‘Karena penyimpangannya.’ Mereka berkata, ‘Ia tidak menyimpang sama sekali; hal itu karena dia menyiapkan untuk mereka dunia, maka mereka makan dan melahapnya dan tidak menghiraukan sedikit pun walau gunung runtuh ke atas mereka. Demi Allah saya tidak yakin mereka menuntut atas kematiannya, meraka mengetahui bahwa ia zalim, akan tetapi mereka telah merasakan manisnya dunia, mencintai dan menikmatinya, mereka tahu bahwa pemilik kebenaran (Ali maksudnya) apabila memimpin akan menghalang-halangi mereka dari apa yang mereka makan dan lahap.”
Ibnu al-Arabi menyebutkan dalam kitabnya bahwa Ammar pada suatu ketika berkata, “Utsman telah kafir dengan terang-terangan.” Dan ketika mendengar Ammar mengkafirkan Utsman, Ali menegurnya atas perkataan itu.
Dan ini yang mendorong para sejarawan mengatakan bahwa kaum Saba’iyyin telah berhubungan dengan Ammar untuk mempengaruhinya.”.
Setelah menukil perkataan Ibnu al-Arabi, DR. Ali al-Wardi kembali mengatakan, “Akan tetapi para sejarawan itu tidak mengatakan bahwa Ammar adalah dari kelompok Saba’iah. Sepertinya mereka tidak berani menyematkan sebutan tercela itu kepadanya, sebab ia adalah sahabat agung yang banyak mengalami penyiksaan di jalan Allah dan Nabi juga sering menyebut-nyebut keutamaannya.
Sebenarnya Ammar adalah seorang Saba’iy dengan sepenuh arti kata. Ia senantiasa berfahan ‘Saba’iah’ hingga akhir hayatnya. Dan saya membayangkan bahwa dia adalah pimpinan kaum Saba’iah terbesar. Artinya dia adalah sebenarnya Ibnu Saba’ yang dimaksud,”[6]
Doktor al Wardi mengatakan, “Disini mungkin ada yang bertanya, ‘Kemanakah Ibnu Saba’ pergi dalam pertempuran dahsyat itu? Adalah hal mengherankan bahwa kita menemukan Ibnu Saba’ dalam semua peristiwa perlawanan terhadap Utsman dan peristiwa-peristiwa yang terjadi setelahnya kemudian dia menghilang\alpa dalam pertempuran Shiffin, ketika Ammar bin Yasir gugur terbunuh. Mengapakah pendekar jenius (baca: Ibnu Saba’) menghilang dalam pertempuran itu? Dan kemanakah ia bersembunyi?
Sesungguhnya para ahli sejarah tidak memberikan jawaban terhadap pertanyaan yang membingungkan ini, baik singkat maupun rinci. Dan kenyataannya ialah bahwa sesungguhnya Ibnu Saba’ tidak bersembunyi dalam pertempuran Shiffin. Ia memang tidak wujud riil sehingga harus menghilang. Ia sekedar fiksi, seperti telah kami sebutkan dalam pasal yang lalu. Dan fiksi akan datang dan pergi sesuai kehendak dan kepentingan pengarangnya.’
Setelah itu Al-Wardi menambahkan, “Terbayang kepada saya bahwa kisah Ibnu Saba’ dari awal hingga akhir adalah kisah yang rapi dan menarik pemaparannya. Sesungguhnya orang-orang Quraisy tidak hanya mahir dalam bidang politik, tapi juga mahir dalam seni cerita.
Sepertinya orang-orang Quraisy pada masa Utsman menyebut-nybut Ammar bin Yasir dalam pertemuan-pertemuan khusus mereka dan mencacinya secara rahasia, sebab bukan maslahat mereka mengumumkan cercaan terhadap Ammar di hadapan halayak ramai ketika itu. Dan mungkin ada yang mendengar mereka menyebut-nyebut Ammar dengan sebutan Ibnu Sawda’, lalu ia mengiranya orang lain bukan Ammar bin Yasir.
Siapa tahu, jangan-jangan kisah Ibnu Saba’ lahir pertama kali dari sangkaan yang salah itu, kemudian bertumpuklah dongeng-dongeng di sekelilingnya sedikit demi sedikit . Dan adalah hal yang mengherankan bahwa kita melihat banyak kesamaan antara apa yang dituduhkan kepada Ibnu Saba’ dengan prilaku Ammar bin Yasir, ini layak direnungkan.
Saya akan paparkan kepada pembaca beberapa kesamaan antara Ammar dan Ibnu Saba’, agar ia menetapkan pandangannya:
Ibnu Saba’ dikenal dengan sebutan Ibnu Sawda’. Ammar juga disebut Ibnu Sawda’. [7]
Ammar dari ayah berkebangsaan Yaman. Dan itu artinya ia dari keturunan Saba’ (bapak kabilah Yaman), setiap orang Yaman dapat disebut ibnu Saba (anak Saba’). Seluruh penduduk Yaman dari keturunan Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qahthan.
Ammar sangat cinta kepada Ali bin Abi Thalib, mengajak dan mengarahkan orang-orang dengan berbagai cara agar membaiat Ali ra. Al Alûsi menyebutkan, ‘Bahwa ada seorang bertanya kepada Ammar tentang ayat ‘Wa idza waqa’a al-qaulu akhrajnâ lahum dâbbatan minal ardli tukallimunnâsa…’’ Ammar menjawab yang dimaksud dengan dâbbah ialah Ali bin Abi Thalib.’[8] Dan pendapat yang dinisbatkan kepada Ammar ini dapat kita temukan kesamaannya pada apa yang dinisbatkan kepada Ibnu Saba’, dimana ia –seperti yang mereka katakan– meyakini adanya raj’ah (kembalinya) Ali ke alam kehidupan setelah kematiannya.
Ammar pada masa kekuasaan Utsman pernah pergi ke Mesir dan membangkitkan masyarakat agar melawan Utsman, lalu gubenur Mesir murka dan berkehendak menghukumnya.[9] Berita ini mirip dengan apa yang dinisbatkan kepada Ibnu Saba’ bahwa ia membangun sebuah markas di sana dan memulai menyurati para pendukungnya dari tempat itu.
Dinisbatkan kepada Ibnu Saba’ bahwa ia mengatakan bahwa Utsman mengambil kekuasaan secara illegal, dan pemiliknya yang syar’i adalah Ali bin Abi Thalib. Sebenarnya ini adalah pendapat Ammar. Pada suatu hari ia menjerit di dalam masjid seusai pembaiatan kepada Utsman, ‘Hai orang-orang Quraisy! Kalau kalian palingkan perkara ini (kepemimpinan) dari rumah Nabi kalian ke sana dan ke sini, maka saya tidak merasa aman kalau Allah mencabutnya dari kalian dan meletakannya pada selain kalian, sebagaiaman kalian memencabutnya dari pemiliknya lalu meletekannya bukan pada ahlinya (pemiliknya).’[10]
Dituduhkan kepada Ibnu Saba’ bahwa ia yang mengahangi upaya perdamaian anatara Ali dan A’isyah dalam pertempuran Jamal di Bashrah … Dan yang mengkaji rincian peristiwa peperangan Jamal pasti akan mendapatkan bahwa Ammar memiliki peran besar di dalamnya, ia yang pergi ke kota Kufah bersama Hasan dan Malik al-Asytar untuk membangkitkan masyarakat agar bergabung ke dalam pasukan Ali .
Mereka mengatakan bahwa yang membangkitkan Abu Dzarr untuk menerima ajaran sosialis adalah Ibnu Saba’ dan apabila kita pelejari habungan antara Ammar dan Abu Dzarr kita akan temukan bahwa keduanya adalah dari satu madrasah (aliran pemikiran), yaitu madrasah Ali bin abi Thalib. Sesungguhnya Abu Dzarr tidak butuh kepada Ibnu Saba’ untuk mengajarinya bahwa uang negara adalah harta kaum Muslim dan tidak boleh dinamakan uang Allah. Teman dekatnya; Ammar dan Ali lebih berhak mengajarinya apabila ia sebelumnya tidak mengetahuinya.
Dan akhirnya Doktor al-Wardi sampai pada kesimpulan ini, “Kami berkesimpulan bahwa Ibnu Saba’ tiada lain adalah Ammar bin Yasir. Orang-orang Quraisy menganggapnya sebagai penyulut kekacauan/pemberontakan terhadap Utsman. Namun pada awalnya mereka tidak ingin menyebut dengan terang-terangan namannya, mereka menyebut dengan sebutan Ibnu Saba’ atau Ibnu Sawda’, lalu para periwayat menukil sebutan ini dan mereka tidak mengetehui apa yang sedang terjadi dibalik layar.’[11]
Komentar Jord Zaidan dalam kitab Ali Suara Keadilan kemanusiaan :
Menanggapi kecenderungan sebagaian penulis yang menutup mata dari kenyataan pahit dan keengganan mereka mencari tahu sebab kejelekan yang berakhir dengan terbunuhnya Khalifah Utsman dan cenderung membebankan kesalahan tersebut kepada asumsi-asumsi tidak berdasar:
Dan di Timur ada penulis-penulis yang tidak menganggap penting realita sejarah dan tidak menganggap penting kondisi kehidupan, mereka menganalisa kebangkitan kaum lemah yang terzalimi pada masa Utsman dan membatasi berbagai peristiwa yang terjadi pada sebuah masa bahkan beberapa masa sebagai digerakkan oleh kehendak seorang yang berkeliling di berbagai kota besar dan menghasut orang agar melawan Khalifah dan pemerintahan!.
Sesungguhnya kesimpulan ilmiah dari anggapan dan tuduhan seperti ini ialah bahwa pemerintahan pada masa Utsman dan Marwan wazir (wakil)nya adalah Negara ideal dan kalangan Bani Umayyah dan para pejabat aristokrat tiada lain mereka adalah utusan keadilan sosial dan persaudaraan manusia di tanah Arab. Akan tetapi seoarang dan hanya seorang yaitu Abdullah bin Saba’ telah merusak atas kaum Umayyah dan para pejabat eristokrat itu kesalihan dan kebaikan mereka, ia berkeliling kota-kota besar menghasut masyarakat atas Utsman dan para pejabat dan emir-nya yang salih dan muslih (peka dan selalu memperbaiki) itu. Dan kalau bukan sebab orang itu dan kampanyenya di berbagai kota niscaya manusia akan hidup dalam kenikmatan yang disajikan Marwan dan keadilan al-Walîd serta kebijakan Mu’awiyah dengan kehidupan yang penuh kenikmatan dan kedamaian.
Dan dalam anggapan seperti ini terdapat kepalsuan atas nama realita dan pemerkosan terhadap manusia serta hanya mengikuti sebagian pendapat yang diselimuti oleh kedangkalan logika dan hujjah palsu yang lemah. Dan selain itu ada yang lebih berbahaya lagi yaitu penggelapan kenyataan dasar dalam bangunan sejarah, sebab ia (yang berpendapat seperti itu) membatasi peristiwa-peristiwa sejarah satu masa bahkan beberapa masa di bawah kendali kehendak seorang yang keliling di berbagai kota menghasut orang agar melawan pemerintahan lalu mereka memberontak terhadap pemerintahan tersebut, bukan karena sesuatu apapun melainkan pengaruh orang yang berkeliling itu!
Adapun kondisi pemerintahan, politik pemerintahan, kebejatan sistem ekonomi, keuangan dan pembangungan, kesemena-menaan para penguasa, monopoli hasilan bumi oleh para pejabat, pengangkatan Bani Umayyah sebagai pejabat yang berkuasa atas leher-leher (umat), penyimpangan dari politik kerakyatan yang demokratis kepada politik kekeluargaan aristokrat kapitalis dan penghinaan terhadap orang yang dihormati banyak rakyat seperti Abu Dzarr, Ammar ibn Yasir dan kawan –kawan, adapun ini semua dan kondisi kehidupan sosisal yang selainnya, dalam pandangan mereka, tidaklah berperan sedikit pun dalam membangkitkan penduduk berbagai kota untuk melaan keluarga Umayyah dan yang berada di kelompok mereka! Penyebab pemberontakan terhadap Utsman tiada lain hanyalah Abdullah ibn Saba’ yang memalingkan masyarakat dari ketaatan kepada para pemimpin dan menaburkan kejahatan.
Bukankah berbahaya pemikiran, ketika muncul di dunia Timur penulis yang menganalisis peristiwa-peristiwa umum yang besar, yang terkait erat dengan watak jemaah dan dasar-dasar sistem ekonomi dan sosial dengan adanya pengaruh seorang dari kalangan orang biasa yang berkeliling kota menyebar kesesatan dan kejahatan di tengah-tengah masyarakat.
Tidaklah berbahaya pemikiran, kalau kita menganalisis revolusi perbaiakan dalam sejarah dengan analisis kekanak-kanakan, dengan bersandar kepada kecenderungan-kecenderungan sebagian orang yang berkehendak menimbulkan kekecauan lalu berkeliling negeri dan terjadilah kekacauan?[12]
[1] Wu’aadh as-Salathin :96 .
[2] Hayat Muhammad ;M.H. Haikal :136 .
[3] Syakhshiyyaat Qaliqah Fil Islam ;Abdurrahman Badawi :33 .
[4] Wu’aadh a-salathin : 97-98 .
[5] Ibid.111dan115 .
[6] Ibid.172-173 .
[7] Pada awal pasal al-Wardi telah menyebutkan bahwa kalangan Quraisy menyebut Ammar dengan al-Abd (si budak) dan Ibnu Sawda’ (putra wanita hitam), tentunya dengan nada mengejek.
[8] Tafsir Ruhul Ma’ani :6\312 .
[9] Al-Fitnah al-Kubra :1\128 .
[10] Ahlul bait ;Abdulhamiid as-Sahhar :66 .
[11] Wu’aadz as-salathin :176-180.
[12] Al-Imam Ali Shawtul ‘Adalah al-Insaniah :3\894-896 .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Allah