judul blog

Gudang Data Notes dan SS Facebookers Syiah Berikut Beberapa Tulisan Penting Seputar Syiah

Sabtu, 03 Desember 2011

DAN DIA ADALAH HUSEIN (MAQTAL BAG 4)

oleh Malik Al-Asytar pada 13 Desember 2010 jam 9:25
ABU FADHL ABBAS DAN ALI AL-ASGHAR BIN HUSEIN ALAYHIMUS SALAM

Saat saudara Al-Husain yaitu Abu Fadhl Abbas melihat peristiwa mengerikan ini, ia mengumpulkan semua saudara laki-lakinya; Abdullah, Ustman dan Ja’far. Mereka semua memutuskan untuk bertempur sebelum Abu Fadhl Abbas.

Abu Fadhl Abbas meminta izin untuk berperang, lalu Imam berkata: “Duhai saudaraku, sebagai ganti dari peperangan, pergilah dan ambillah air untuk anak-anak.” Abu Fadhl Abbas mendengar tangisan anak-anak karena kehausan. Fathimah anak Imam yang menghampiri Abu Fadhl Abbas sambil menangis dan memegang tangan Al-Abbas ia berkata: “Duhai pamanku, berjanjilah kepadaku untuk membawakan air untukku, aku sudah teramat haus.” Sambil menangis melihat keadaan keponakannya Abu Fadhl Abbas menjawab: “Duhai keponakanku sayang, aku berjanji padamu akan membawakan engkau air.”

Al-Abbas segera mengambil kudanya dan kantong air, dan pergi kearah pasukan musuh yang mengelilingi sungai Furat. Dan Al-Abbas pun berkata: “Wahai Umar Bin Sa’ad ! Ini adalah pesan al-Husain cucu Rasulullah. Engkau sudah membunuh semua sahabat dan keluarganya. Anak-anak dan wanita sedang kehausan. Berilah kesempatan mereka untuk minum.”

Ucapan Al-Abbas mempengaruhi pasukan musuh, namun manusia paling terlaknat yaitu Syimir Bin Dzil Jausyan menjawab: “Jika seluruh bumi ini diisi dengan air, kami tidak akan membiarkan kalian untuk minum walaupun hanya setetes air, kecuali jika kalian datang dan memberi sumpah setia kepada Yazid Bin Muawiyyah!”

Mendengar jawaban Syimir, Al-Abbas tetap memacu kudanya kearah sungai Furat. Empat ribu pasukan musuh mengepung dan memanahi Abbas, tetapi Abbas tidak mempedulikannya. Ia tetap memacu kudanya menuju sungai dengan membawa panji ‘Al-Hamd’ bendera Rasulullah yang selalu digunakan dalam setiap peperangan.

Saat Al-Abbas mencapai sungai Furat, dirinya juga sangat merasakan haus. Ia menadahkan tangannya mengambil air untuk meminumnya, tetapi ia teringat dengan Al-Husain, anak-anak dan para wanita yang tengah tercekik rasa dahaga, lalu Al-Abbas membuang air dari tangannya, dan berucap: “Aku tidak ingin hidup setelah Imam Husain. Al-Husain, anak-anak dan para wanita tengan tercekik rasa dahaga, dan aku tidak akan minum selagi mereka kehausan. Ini bukanlah perintah agamaku untuk melakukannya.”

Abu Fadh Abbas segera mengisi kantung-kantung air dan kembali menuju kemah Al-Husain. Pasukan musuh menghalanginya dan Al-Abbas banyak membunuh pihak musuh sambil bertempur Abba berkata: “Aku tidak peduli akan kematian, hidupku adalah untuk melindungi pemimpinku Husain.”

Tentara musuh yang bernama Zaid Bin Rughad dengan licik bersembunyi, dan tiba-tiba muncul sambil mengayunkan pedangnya sekuat tenaga ketangan kanan Al-Abbas, hingga tangan kanan Al-Abbas terputus. Al-Abbas mengunakan tangan kirinya untuk membawa katung air. Sambil terus memacu kudanya Al-Abbas berkata: “Walaupun kalian memotong tangan kananku, aku akan tetap melindungi agamaku, kebenaran pemimpinku dan seluruh keluarga Rasulullah.”

Fadhl Abbas tidak mempedulikan rasa sakit dan tangannya yang telah terputus, ia tetap memacu kudanya untuk mengantarkan kantong air untuk anak-anak. Pasukan musuh yang bernama Hakim Bin Tufail yang juga tengah bersembunyi tiba-tiba muncul mengayunkan pedangnya dengan keras, menebas tangan kiri Al-Abbas hingga terputus. Lalu Abu Fadhl Abbas mengambil dan membawa kantung air dengan menggigitnya. Ia tidak peduli dengan rasa sakit dan kedua tangannya yang telah terputus. Pihak musuh memutari Al-Abbas, dan melesatlah anak panah menembus kantung air dimulut Al-Abbas dan air itupun tertumpah habis.

Dengan perasaan sedih dan pilu Abu Fadhl Abbas menatapi air yang tertumpah, ia menangis karena tidak dapat membawakan air untuk anak-anak. Setelah melihat kedatangan pamannya Al-Abbas dari kejauhan, Fathimah puteri Al-Husain segera berlari-lari di dalam kemah mencari wadah air, untuk menampung air yang dibawa oleh pamannya. Puteri Imam ini tidak mengetahui bahwa kedua tangan pamannya telah terputus dan air telah tertumpah.

Sesaat kemudian satu anak panah melesat dan menancap di dada Al-Abbas hingga menembus jantungnya. Dan pasukan yang lain menusuk kepala Al-Abbas dengan tombak dan tombak itupun masuk kekepala Al-Abbas. Lalu Abu Fadhl Abbas jatuh tersungkur sambil berteriak ke arah Imam: “Alaika minni Salam Ya Aba Abdillah, kedamaian untukmu, duhai Imam.”

Al-Husain seketika maju untuk menjemput saudaranya Al-Abbas, Namun Abu Fadhl Abbas melarangnya, seraya berkata: “Duhai saudaraku, janganlah engkau menjemputku dan membawaku ke kemah. Aku malu kepada puterimu Fathimah, karena aku tidak mampu membawakannya air, sedangkan aku telah berjanji padanya untuk membawakannya air.”

Melihat Al-Abbas gugur, Imam menangis dan berkata: “Sekarang tulang punggungku telah patah, dan aku tidak memiliki pilihan.” Imam terus menangis dan menghapus air matanya dengan lengan bajunya seraya berucap kearah musuh: “Apakah tak ada seorangpun yang mau membantu kami? Apakah tidak ada seorangpun yang mau memberi kami tempat berlindung ? Apakah tak seorangpun takut akan api neraka ?

Sukainah datang menghampirinya dan bertanya tentang pamannya Al-Abbas. Zainab membawa Sukainah kembali kekemah, dan para wanita keluarga Nabi mulai menangis pilu. Imam memandang sekelilingnya dan tidak melihat seorangpun keluarga laki-lakinya yang tersisa. Al-Husain menatap satu persatu wajah keluarganya yang masih tersisa. Kemudian Imam jenazah para pembelanya yang telah berlumuran darah.

Lalu Imam berkata lantang: “Apakah ada diantara kalian yang mau mengasuh keluarga Rasulullah ? Apakah ada diantara kalian yang takut akan Allah? Apakah ada diantara kalian yang mau membantu kami ?

Mendengar ucapan Imam, para wanita menangis dan meratap. Ali Zainal Abidin (As Sajjad) yang sedang sakit keras berusaha bangun dan mengambil pedang untuk berperang. Imam berkata kepada Ummu Kultsum: “Jangan biarkan ia terlibat dalam peperangan ini. Jika ia terbunuh tidak akan ada seorangpun yang akan membawa pesan Rasulullah dan jangan sampai bumi ini kosong dari keturunan kakekku Muhammad.”

Kemudian Imam meminta untuk memberikan puteranya yang masih bayi Ali Al-Asghar kepadanya, untuk mengucapkan salam perpisahan. Kemudian Zainab dan istri Imam yang bernama Robab memberikan bayi yang masih merah itu kepada Imam, sambil berkata kepada Imam: “Duhai suamiku, sudah tiga hari puteramu ini tidak merasakan air.”

Melihat bibir bayinya yang begitu kering, Imam menaiki kuda dan membawa bayinya kehadapan pasukan musuh dan berkata: “Celakalah kalian! berikanlah air kepada bayi yang masih menyusui ini. Tidaklah kalian melihat bayi ini meronta-ronta karena kehausan? Jika kalian ingin membunuhku, bayi ini tidak memiliki dosa untuk kalian musuhi. Ambillah bayi ini dan tolong berikan ia air.”

Melihat hal itu Umar Bin Sa’ad berkata kepada budaknya yang bernama Harmalah Bin Kahil: “Selesaikan masalah ini sekarang!” Lalu Harmalah membidikkan panah beracun kearah bayi yang dipegang Imam. Kala itu Imam baru selesai mengumandangkan Azan ditelinga puteranya yang masih merah itu dan baru saja Imam akan menciumnya. Seketika anak panah beracun itu dilesatkan dan tepat mengenai kerongkongan mungil itu dan mengoyaknya hingga menembus leher bagian belakang. cucu Az Zahra’ yang tak berdosa itu seketika meregangkan nyawanya.

Imam menangis dan turun dari kudanya, kemudian memanggil adiknya Zainab untuk memegang bayi yang sudah tidak lagi bernyawa itu. Sayyidah Zainab menjerit dan Imam menadahkan kedua tangannya untuk mengambil darah puteranya yang mengalir dari lehernyanya yang kecil. Kemudian Imam melemparkan darah puteranya ke langit, seraya berkata: “Ya Allah, saksikanlah apa yang telah mereka lakukan terhadap keluarga Nabi-Mu. Ya Allah, terimalah Qurban ini.”

Dengan tangisan yang pilu Imam mengorek tanah dengan pedang, untuk menguburkan putera kesayangannya itu, agar tubuh cucu Az Zahra’ itu tidak hancur terinjak kaki-kaki kuda para musuh Allah. Kemudian Al-Husain mengenakan pakaian Rasulullah, memakai baju besinya dan membawa pedang dan menaiki kudanya.

Kemudian Imam mendatangi pintu kemah dan memanggil seluruh keluarga wanitanya, “Duhai putriku Sukainah, Ya Fathimah, Ya Ummu Kultsum, Ya Zainab. Aku datang untuk mengucapkan selamat tinggal kepada kalian” Ketika Al-Husain ingin memacu kudanya, kuda yang ditungganginya tidak mau berjalan. Lalu Imam menoleh kebelakang, dilihatnya Sukainah sedang memeluk kaki kudanya sambil menangis tersedu-sedu.

Imam turun dari kudanya, kemudian memeluk puterinya sambil menghapus air mata dari kedua mata putrinya Imam berkata: “Duhai puteriku sayang, ketahuilah tangisanmu akan berlangsung lama, setelah aku pergi dari hadapanmu. Duhai wanita terpilih, janganlah kau membuat hatiku pedih dengan air matamu, selama nyawaku masih dalam ragaku. Ketika aku terbunuh engkaulah yang paling berhak menangisiku.”

Sambil terisak-isak Sukainah berkata: “Duhai ayahku sayang, apakah engkau akan mati dan apakah engkau Ridha untuk itu?” Sambil menangis Imam menjawab: “Bagaimana aku tidak akan mati, sementara tidak ada satu orangpun yang mau menolongku.”

Ketika Imam kembali ingin memacu kudanya, kuda itupun tetap tidak mau berjalan, Imam menoleh kembali kebelakang. Kali ini Imam melihat adiknya Zainab menangis histeris sambil memeluk kaki kudanya. Lalu Imam turun kembali dari kudanya dan memeluk Zainab.

Sayyidah Zainab berkata pada Imam: “Duhai kakakku sayang, izinkanlah adikmu ini menyampaikan dua amanat terakhir dari ibundamu Fathimah. Sebelum ibumu menghembuskan nafasnya yang terakhir, ia memanggilku dan berpesan kepadaku, ‘jika nanti kakakmu Husain akan berangkat untuk menjemput kesyahidan di Karbala, mintalah ia untuk menggunakan pakaian buruk ini, agar ia tidak ditelanjangi oleh musuhnya setelah ia syahid. Dan aku amanatkan kepadamu untuk mewakiliku, untuk mencium leher kakakmu Husain sebelum lehernya disembelih oleh musuhnya.’ Duhai kakakku, maka izinkanlah aku melaksanakan kedua amanat ibundamu itu.”

Mendengar Zainab menyebutkan nama ibunya, Fathimah. Imam menangis tersedu-sedu. Imam segera memakai pakaian yang diberikan oleh ibunya, untuk dipakai sebagai pakaian dalamnya. Lalu Zainab melaksanakan amanat ibundanya dan mencium leher suci Al-Husain. Inilah yang membuat seluruh penghuni langit tidak kuasa menahan tangis.

Bersambung..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Allah