judul blog

Gudang Data Notes dan SS Facebookers Syiah Berikut Beberapa Tulisan Penting Seputar Syiah

Sabtu, 03 Desember 2011

DAN DIA ADALAH HUSEIN (MAQTAL BAG 3)

oleh Malik Al-Asytar pada 11 Desember 2010 jam 11:06
ALI AL-AKBAR BIN HUSEIN DAN QASIM BIN HASAN ALAYHIMUS SALAM...

Saat ini tak seorangpun sahabatnya yang tersisa. Kini hanya tinggal keluarga Imam, maka majulah seorang pemuda yang wajahnya dan perilakunya sangat serupa dengan Rasulullah. Dia adalah Ali Al-Akbar Bin Husain Bin Ali Bin Abi Thalib. Para wanita menangis histeris melihat Ali Al-Akbar maju kemedan pertempuran. Ali Al-Akbar segera maju menyerang musuh sambil bersyair:

Aku adalah Ali Bin Husain Bin Ali
Dibanding siapapun kami lebih dekat nasabnya kepada Nabi
Sesengguhnya kalian tidak memiliki hak atas kami
Aku akan berjuang untuk melindungi ayahku ini
Dalam medan pertempuran antara Quraish dengan Bani Hasyimi

Ketika Imam mendengar Syair itu, Imam pun menangis dan berkata: “Wahai Umar Bin Sa’ad! Engkau tidak sedikitpun menghormati hubungan kami dengan Rasulullah. Allah akan mengirim seseorang untuk membunuhmu diatas tempat tidurmu.

Ya Allah. Sungguh tidak ada seorangpun yang paling serupa baik wajah, perilaku dan tutur katanya dengan Rasulullah, kecuali pemuda yang baru berangkat menemui musuh-musuh-Mu ini.

Kapan saja kami rindu dan ingin mengenang Nabi-Mu, kami akan memandangi wajah Ali Al-Akbar. Ya Allah, cegahlah ia dari mereka yang hanya menyembah dunia, cerai beraikan mereka dan jangan buat seorangpun membantu mereka.”

Ali Al-Akbar berperang sesekali pada sisi kanan dan sisi kiri, dan ia dapat membunuh seratus dua puluh pasukan berkuda musuh. Ali Al-Akbar kembali kepada ayahnya karena rasa dahaga yang membakar tenggorokannya dan berkata: “Duhai ayahku, adakah seteguk air untukku? Aku teramat haus.”

Imam menangis, kemudian Imam meletakkan lidahnya kelidah Ali Al-Akbar, seraya Ali Al-Akbar berkata: “Demi Allah, lidah ayahku lebih kering dari lidahku.” Lalu Imam memasukkan cincinnya kemulut anak kesayangannya itu, dan menyuruh puteranya untuk menghisapnya agar rasa dahaganya berkurang.

Ali Al-Akbar kembali kemedan peperangan, dan berhasil membunuh ratusan musuh lagi. Dari pihak musuh Murrah Bin munqidh berteriak: “Akan kubunuh anak laki-laki ini.”

Lalu musuh itupun memburu Ali Al-Akbar, ia menusuk punggung Ali Al-Akbar dari belakang dengan tombak, tidak cukup sampai disitu musuh itupun menusuk kepala cucu Fathimah itu. Ali Al-Akbar terjatuh, kemudian berdiri dan bersandar sambil memeluk leher kudanya. Tetapi kudanya berlari terus mengarah pada pasukan musuh.

Pasukan musuh pun mengelilinginya dan bersama-sama menyerang Ali Al-Akbar dari segala arah. Dan beramai-ramai musuh membabi buta dan bernafsu mengayunkan pedangnya menyayat tubuh Ali Al-Akbar, dan berniat untuk memotong-motong tubuh darah daging Az Zahra’ ini.

Ali Al-Akbar menjerit kepada ayahnya: “Salam atasmu duhai ayahku. Kini aku telah melihat kakekku telah datang untuk memberiku air. Dan beliau mengatakan air untukmu telah ada disini menantimu.”

Al-Husain menyeruak maju ke medan tempur untuk menjemput anak kesayangannya. Melihat Imam maju memacu kudanya, dari setiap gerakan Imam pihak musuh seperti melihat Singa Allah Ali Bin Abi Thalib. Badan mereka gemetar lalu pasukan musuh ketakutan dan lari berhamburan.

Al-Husain membawa jenazah puteranya dan meletakkannya dikemah, sambil menangis Imam meletakkan pipinya pada pipi puteranya yang sudah tidak bernyawa itu, sambil berkata: “Tidak ada apapun yang terbaik didunia ini setelah engkau. Hal yang sangat nista adalah ketika orang-orang ini menentang Allah, dengan menghina keluarga Rasulullah. Yang telah menyengsarakan kakekmu dan ayahmu. Ketika engkau memanggil mereka, tetapi mereka tidak menjawab panggilanmu. Dan ketika engkau meminta pertolongan pada mereka, namun mereka tidak mau membantumu.”

Zainab, Fathimah, Sukainah, Ummu Kultsum dan seluruh wanita keluarga Nabi menjerit dan menangis histeris, melihat tubuh Ali Al-Akbar yang telah terbujur. Mereka peluk jasad yang penuh luka dan berlumuran darah itu. Mereka pandangi wajah Ali Al-Akbar dan seakan mereka telah melihat wajah datuk mereka Rasulullah. Ini yang membuat mereka terus menangis.

Lalu majulah Abdullah Bin Muslim Bin Aqil, ia maju menyerang musuh dan membunuh beberapa musuh. Pasukan pemanah musuh yang bernama Ibnu Raqqad melesatkan anak panah kearah kepala Abdullah. Abdullah berusaha menahannya tetapi ia tidak dapat mengelak dari anak panah itu. Maka anak panah itupun menancap dikepala Abdullah. Dan anak panah yang lain melesat dan mengenai dadanya hingga menembus jantung Abdullah. Maka Abdullah gugur seketika.

Semua laki-laki yang tersisa diantara keluarga Abu Thalib, maju berperang secara bersamaan menyerang musuh. Mereka adalah Aun Bin Abdullah Bin Ja’far Ath Thayyar dan saudaranya Muhammad, Abdurrahman Bin Aqil dan saudarnya Ja’far, Hasan Mutsanna, Muhammad Bin Muslim Bin aqil dan Muhammad Bin Ali Bin Abi Thalib.

Melihat keluarga Nabi yang terkenal sebagai pahlawan dan ahli perang yang sangat pemberani. Banyak pihak musuh yang lari tunggang langgang ketakutan dengan serangan para Singa Allah ini.

Ribuan pasukan musuh tumbang tak bernyawa ditangan para Singa Allah, namun pihak musuh masih terlalu banyak bagi mereka. Dan akhirnya mereka semua gugur satu persatu dalam membela pemimpin mereka Al-Husain. Melihat begitu banyak keluarganya terbunuh Imam menangis dan mendoakan mereka.

Selanjutnya Qasim Bin Hasan Bin Ali Bin Abi Thalib maju meminta izin Imam untuk bertempur. Usia keponakan Imam ini masih Sembilan tahun. Imam sangat berat hati mengizinkan keponakannya yang masih kecil ini ikut berperang. Namun Qasim berkata: “Duhai pamanku, sebelum ayahku menghembuskan nafasnya yang terakhir. Ia memanggilku dan membisikkan kepadaku: ‘Jika suatu saat engkau bersama pamanmu Husain dipadang Karbala’, aku meminta engkau untuk membelanya hingga tetesan darahmu yang terakhir.”

Mendengar perkataan Qasim, Imam menangis dan mengizinkan keponakannya itu untuk memenuhi keinginan kakak tercintanya Al-Hasan Al-Mujtaba. Maka majulah Qasim yang masih sangat belia menghampiri musuh. Ia memakai sandal dikakinya, ketika ia berjalan kemedan pertempuran salah satu tali pengikat sandalnya terputus.

Karena Qasim masih kecil ia tidak peduli dengan situasi yang mengerikan itu, ia berhenti sejenak dan merunduk untuk memperbaiki tali sandalnya. Pihak musuh mengelilingi Qasim yang masih kecil itu, dan memperhatikan Qasim yang sedang sibuk memperbaiki tali sandalnya.

Seorang musuh yang bernama Ibnu Nafil, maju untuk membunuh Qasim. Tapi musuh yang bernama Hamid menghadangnya dan berkata: “Apa yang engkau inginkan dari anak kecil ini? Tinggalkanlah ia! Tidaklah engkau melihat yang lain hanya mengelilinginya dan membiarkannya!” Ibnu Nafil terlaknat menjawab: “Tidak! Aku ingin membunuh anak kecil ini!”

Manusia laknat itu maju menghampiri Qasim sambil mengayunkan pedangnya ketangan Qasim yang masih memperbaiki tali sandalnya. Maka tangan keponakan Imam itu terkena sabetan pedang, hingga tangan anak kecil Al-Hasan itu hampir terputus dan tangan bergelantungan hanya pada kulitnya.

Qasim pun menjerit memanggil Al-Husain, “Duhai paman…” Lalu Ibnu Nafil dengan bengis kembali mengayunkan pedangnya kearah leher kecil cucu Fathimah Az Zahra’, dan leher itupun terputus dan kepala Qasim jatuh ketanah.

Al-Husain mendengar jeritan panggilan Qasim, dan Imam begitu cepat menerjang pasukan musuh. Imam menebas leher pembunuh biadab itu hingga leher musuh itu terputus. Sebelum lehernya terputus Ibnu Nafil menjerit keras agar pasukan yang lain membantunya, tetapi mereka tidak mampu melawan Al-Husain, dan masing-masing dari mereka lari menyelamatkan diri.

Ketika debu turun, Imam menangis dan berdiri sambil memegang kepala Qasim dan berkata: “Celakalah mereka yang telah membunuhmu. Duhai Qasim, pada hari penghakiman nanti, kakekmu akan memusuhi mereka. Teramat sulit untuk pamanmu hingga tak mampu membantumu. Sangatlah sulit bagi pamanmu untuk menjawab, tanpa mampu melakukan sesuatu untukmu.”

Al-Husain membawa kepala dan tubuh kecil Qasim kekemah, dan meletakkannya disebelah jasad Ali Al-Akbar, ketika melihat jasad-jasad keluarganya yang telah gugur Imam berucap: “Ya Allah, janganlah meninggalkan yang manapun sendirian, dan janganlah pernah memaafkan mereka yang telah melakukan kekejian ini. Duhai keluargaku, bersabarlah !”

INNALILLAHI WA INNA ILAYHI ROJI'UN

Bersambung......

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Allah