judul blog

Gudang Data Notes dan SS Facebookers Syiah Berikut Beberapa Tulisan Penting Seputar Syiah

Senin, 28 Februari 2011

Taqiyah Dalam Kitab Sunni

oleh Mufadhal Abda Morteza pada 28 Februari 2011 jam 10:36

Sering kita mendengar atau membaca bahkan fitnah kepada Syiah Imamiyah bahwa Syiah melakukan taqiyah yang menurut mereka taqiyah adalah bentuk kemunafikan. Disini kita tidak akan membicarakan panjang lebar apa taqiyah dan apa syarat taqiyah. Namun kita akan melihat apakah taqiyah tidak ada dalam sunni? apakah ulama mereka tidak membahas hal tersebut?



Dalam kitab Kanzul Ummal (3/96) tercatat :



5665 لا دين لمن لا تقية له.

"Orang yang tidak ber-taqiyah tidak beragama"

http://islamport.com/d/1/krj/1/76/840.html







Ibn Abi Syaibah mencatat dalam Al-Mushanaf (7/642) :



حدثنا وكيع عن إسرائيل عن عبد الأعلى عن ابن الحنفية قال: سمعته يقول لا إيمان لمن لا تقية له

Waki' meriwayatkan dari Israil dari Abdul a'la dari Ibn al-Hanafiyah : "seseorang yang tidak melakukan taqiyah tidak memiliki iman"





Perawi :



Waki bin Al-Jarah : Ibn Hajar berkata : 'Tsiqah' (Taqrib al-Tahdib, 2 /283)

Israil bin Yunus : Ibn Hajar berkata: 'Tsiqah' (Taqrib al-Tahdib, 1/88)

Abdul a'la bin Amir : Ibn Hajar berkata: 'Shaduq' (Taqrib al-Tahdib, 1/551)





Ibn Abi Syaibah mencatat dalam Al-Mushanaf (6 /474):



دخل بن مسعود وحذيفة على عثمان فقال عثمان لحذيفة بلغني أنك قلت كذا وكذا قال لا والله ما قلته فلما خرج قال له عبد الله ما لك فلم تقوله ما سمعتك تقول قال إني اشتري ديني بعضه ببعض مخافة أن يذهب كله

Ibn Mas'ud dan Hudzaifah datang menemui Ustman, lalau Ustman bertanya kepada Hudzaifah, "Telah sampai kabar kepadaku bahwa kau mengatakan ini dan itu", Hudzaifah menjawab; " Tidak Demi Allah, aku tidak mengatakan hal tersebut", ketika Hudzaifah pulang (Abdullah bin Mas'ud) bertanya kepadanya (hudzaifah); "Apa yang terjadi padamu? Kau tidak mengatakan apa yang aku pernah dengar kau katakan tentangnya?". Hudzaifah menjawab; "Aku membeli sebagian agamaku dengan sebagian ketakutan agar agamaku tidak hilang semuanya"



(atau dapat dilihat online المصنف : http://www.islamweb.net/newlibrary/display_book.php?idfrom=4863&idto=4863&bk_no=10&ID=4548)



Dalam Shahih Bukhari (VIII/95, Arabic-English)

Telah disebutkan bahwa Abu Darda berkata : "Kami memberi senyum kepada beberapa orang sementara hati kami mengutuk mereka"







Shalat berjamaah di belakang orang fajir tentu saja tidak dapat diterima, namun para sahabat dan tabi'in melakukan shalat dibelakang mereka, apakah ini bukan taqiyah? sebagaimana Imamnya kaum Nawashib yaitu Ibn Taymiyah sendiri mencatat dalam Majmu' al-Fatawa (3/281) :



"Abdullah bin Umar dan diantara sahabat lainnya shalat dibelakang Hajaj sebagaimana sahabat dan tabi'in shalat dibelakang Ibn Abi Ubaid seorang yang dilanda keateisan dan pengajak dalam kesesatan"



fakta meskipun Hajjaj dan Ibnu Abi Ubaid adalah orang yang keji, sahabat dan tabi'in shalat di belakang mereka yang membuktikan bahwa mereka melakukan Taqiyah, kecuali mereka ridha dan setuju dengan kekejian Hajaj secara dhahir maupun batin..!





Ibn Asakir mencatat ucapan Imam Hasan (as) :



"Sayangilah dirimu, Taqiyah adalah pintu keluar bagi umat Islam, setiap kali diperlukan dan ada ketakutan dari orang yang dominan maka orang harus melakukan Taqiyah dan hanya mengatakan kebalikan dari apa yang ada di hati, dengan cara ini, seseorang diselamatkan dari pertanggungjawaban dihadapan Allah " (Tahdib, 1/168)







Ulama Sunni lainnya yaitu Fakhruddin al-Razi juga menyatakan tentang taqiyah dalam Tafsir al-Kabir (4/170) :



بل يجوز أيضاً أن يظهر الكلام الموهم للمحبة والموالاة ، ولكن بشرط أن يضمر خلافه

"Sebenarnya juga diperbolehkan mengucapkan kata-kata yang menunjukkan kesetiaan dan cinta, namun pada suatu kondisi untuk percaya (dalam hati) sebaliknya"





Dalam menafsirkan ayat 18-19 Surat Asy-Syu'ara :



[26:18] Fir'aun menjawab: "Bukankah kami telah mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu."

[26:19] dan kamu telah berbuat suatu perbuatan yang telah kamu lakukan itu dan kamu termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna."



Fakhruddin Razi menyatakan bahwa Nabi Musa (as) melakukan taqiyah (Tafsir Kabir, 11/467), begitu juga ulama sunni lainnya dalam Tafsir Nafsi (3/182) :



وهذا افتراء منه عليه لأنه معصوم من الكفر وكان يعايشهم بالتقية
Ini adalah dusta darinya kepadanya (musa), karena ia seorang yang ma'sum dari kekafiran, dan ia hidup dengan mereka dengan taqiyah





Dalam Tafsir Baydhawi (1/234)



الكتاب : تفسير البيضاوي

المؤلف : البيضاوي

عدد الأجزاء : 1

http://islamport.com/d/1/tfs/1/31/1692.html



فإنه عليه الصلاة والسلام كان يعايشهم بالتقية

"Ia alahihi shalatu wa salam hidup dengan mereka dengan taqiyah"





Fakhruddin al-Razi dalam Tafsir Al-Kabir (4/170) :



عن الحسن : أنه قال التقية جائزة للمؤمنين إلى يوم القيامة

Al Hasan berkata Taqiyah diperbolehkan bagi mu'min sampai yaumil qiyamah







Bahkan Al-Ghazali mengatakan "berbohong" (Al-Ghazali tidak mengatakan bertaqiyah) di wajibkan dalam keadaan tertentu (Ihya Ulumu-Din, 2/332) :



الكتاب : إحياء علوم الدين

المؤلف : أبو حامد الغزالي



أن عصمة دم المسلم واجبة. فمهما كان في الصدق سفك دم امرئ مسلم قد اختفى من ظالم فالكذب فيه واجب

"Menjaga darah seorang muslim adalah wajib. Jika kejujuran akan mengakibat darah seorang muslim yang sedang bersembunyi dari kejaran orang zalim akan tertumpah maka BERBOHONG ADALAH WAJIB."







Ibn Abi Shaybah mencatat ucapan Al-Hasan bin Imam Hasan bin Imam Ali bin Abi Thalib (as) dalam Al-Mushanaf (7/642)



حدثنا وكيع عن فضيل بن مرزوق عن الحسن بن الحسن قال إنما التقية رخصة

Waki' meriwayatkan dari Fudhail Bin Marzuq dari Al-Hasan bin Al-Hasan berkata : "Sesungguhnya Taqiyah diperbolehkan"



Waki' bin al-Jarah : Ibn Hajar berkata : Tsiqah (Taqrib al-Tahdib, 2/283).

Fudhail bin Marzuq : Ibn Hajar berkata : Shaduq (Taqrib al-Tahdib, 2 /15).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Allah